
Beberapa tempat yang sudah terbiasa dengan budaya menuntut ilmu (thalabul ‘ilmi) macam pesantren, biasanya kultum malah diliburkan, karena hari-hari mereka sudah diisi dengan nasehat (taushiyah) dan kajian ilmiah. Persoalannya adalah bagi kalangan umum yang tidak sempat atau tidak mau peduli dengan ilmu agama, tentu kehadiran kultum sedikit memaksa mereka untuk mendengarkan.
Persoalannya adalah kadang pemateri kultum itu tidak memadai untuk bisa menyampaikan ilmunya yang diringkas dalam 7 menit. Saya suka berseloroh,”Yang kuliah 4 tahun saja masih bingung koq kuliah 7 menit”.. Atau justru sebaliknya ya, yang kuliah lama malah tidak faham agama, tapi yang kultum sebentar malah bisa mengamalkan. Ini nih faktanya ada kejadian lucu saat ada alumni sebuah perguruan tinggi Islam (STAIN) yang mengatakan,”Ikan-ikan yang kami jual ini disembelih secara syar’i (tuntunan syariat), jadi dijamin halalnya!”. Lho, sejak kapan ya ada anjuran ikan disembelih secara syar’i, lha wong bangkai ikan saja halal, koq, jadi tidak perlu disembelih kan?!
Hehe, … kembali ke kultum. Ini sering kejadian, sehabis mendengarkan kultum para jamaah malah bikin dosa baru dengan meng-ghibah (ngrasani) yang kultum karena ada sebagian yang tersinggung dengan isi kultumnya. Tentunya si penceramah mungkin ada yang sengaja dan mungkin saja kebetulan isi kultumnya menyampaikan ayat yang berkenaan atau ngepasi kasusnya jamaah. Kalau dipikir ya lucu, emang ayat Al-Qur’an itu tentu saja isinya nyinggung, lha itu kan pedoman atau petunjuk bagaimana sebaiknya menjalani kehidupan. Kalau ada yang tidak pas, tentu bukan petunjuknya yang dipersoalkan, tapi pribadinya yang harus dibenahi, termasuk yang kultum.
Berdasarkan pengalaman yang sudah-sudah, dimana saja hampir sama, jamaah shalat di bulan Ramadhan lebih banyak diisi oleh mereka yang biasanya tidak pernah ke masjid. Buktinya semakin hari mendekati akhir Ramadhan, jamaah shalat tarawih atau shubuh mengalami kemajuan yang sangat pesat. Hari pertama jumlah mereka mungkin ada 10 barisan (shaf), tiba-tiba jamaah maju menjadi hanya 3 barisan saja. Ya, inilah fenomena yang menggambarkan kualitas kaum muslimin di Indonesia pada umumnya, mayoritas jumlahnya, tapi minor komitmennya. Semua sibuk mencari keduniaan dan melupakan akhirat, sampai bulan Ramadhan masih ribut melulu seperti acara-acara para politikus negeri.
Mari kita renungkan ayat Allah Ta’ala berikut ini!
“Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau*) belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertaqwa. Maka tidakkah kamu memahaminya?” (Al-An’am : 32)
Maksudnya senda gurau adalah kesenangan-kesenangan duniawi itu hanya sebentar dan tidak kekal. Janganlah orang terperdaya dengan kesenangan-kesenangan dunia, serta lalai dari memperhatikan urusan akhirat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar