Kamis, 28 Juli 2011

Mari Sambut Ramadhan Tak Sekedar Basa-Basi


Bulan Ramadhan 1432 H tahun ini kebetulan bertepatan dengan bulan Agustus 2011. Ramadhan menjadi bulan yang mulia, diagungkan, dan dirindukan kaum muslimin seantero jagad. Sementara, bulan Agustus menjadi bulan bersejarah bagi bangsa Indonesia sebagai tonggak berdirinya Republik Indonesia yang berdaulat.

Bulan Ramadhan menjadi sangat istimewa karena keutamaannya yang disebut dalam Al-Qur’an maupun Hadits-Hadits Rasulullah Shallallohu ‘Alaihi Wasallam.

Dalam Al-Qur’an disebutkan dalam Surah Al-Baqarah : 183 – 185 yang sudah tidak asing lagi bagi kaum muslimin, karena hampir semua khatib jum’at maupun para penceramah kultum selalu mendengungkannya.

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa, (yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka barangsiapa diantara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin. Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebaikan, maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. (Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.” (Al-Baqarah : 183 – 185).

Sedangkan, dalam hadits-hadits lebih banyak disebutkan. Bagi para guru dan pelajar serta penuntut ilmu dari manapun Anda berada, silahkan dirujuk dalam buku-buku fikih yang menjelaskannya. Secara rincinya, hadits-hadits tersebut dapat dibaca dari buku-buku fikih terpercaya. Di antara buku fikih yang saya punyai adalah Al-Wajiz fi Fiqhis Sunnah wal Kitaabil Aziz, karya Syaikh Dr. ‘Abdul ‘Adhim Badawy Al-Khalafi yang diterbitkan di Mesir, kemudian versi terjemahan bahasa Indonesia diterbitkan oleh Pustaka As-Sunnah Jakarta dengan penerjemah Ma’ruf Abdul Jalil dengan judul “Al-Wajiz ; Ensiklopedi Fiqih Islam dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah As-Shahihah”. Di buku lain tentu ada beberapa tambahan yang berbeda. Dimana kesimpulan garis besarnya adalah sbb :

(1) Ramadhan adalah bulan tempat diwajibkan rukun Islam ke-4 (puasa) yang dijanjikan pahala besar dan penuh ampunan

(2) Ramadhan adalah bulan turunnya Al-Qur’an dan di dalamnya terdapat Lailatul Qadar yang lebih berkah ibadah di dalamnya melebihi 1.000 bulan.

(3) Seluruh hari di bulan Ramadhan adalah penuh rahmat, ampunan, dan pembebasan dari api neraka (karena pembagian Ramadhan menjadi 3 bagian ; 10 hari pertama rahmat, 10 hari kedua ampunan, dan 10 hari ketiga pembebasan dari api neraka adalah tidak absah/tidak shahih haditsnya).

(4) Selama bulan Ramadhan pintu amal baik terbuka lebar dan pintu keburukan lebih sedikit, terkait dibukanya pintu-pintu surga dan ditutupnya pintu-pintu neraka serta dibelenggunya para syaitan.

Demikian, saya rasa kurang tepat jika tulisan ini terlalu panjang mengingat ini bukan rubrik ilmiah. Untuk merujuk rubrik kajian Islam ilmiah, kita bisa merujuk ke website (Muslim Belajar Islam) yang tertaut dalam Blog saya ini. Silahkan meluncur ke sana!

Nah, kalau melihat fenomena Ramadhan di negeri kita, memang seperti itu. Hari-hari pertama masjid-masjid penuh, sampai diperluas dengan semacam ‘deklit’ untuk menghindarkan jamaah dari kemungkinan hujan. Penuh sesak, dan ironisnya, jumlah jamaah shalat di masjid semakin hari semakin berkurang, terutama menjelang penghabisan. Setelah itu, kembali ke selera asal, masjid-masjid kembali sepi. Karena kondisi ini saya pernah bercanda dengan pengurus masjid yang berencana memperluas bangunan masjid yang ada. “Maaf, Pak. Kalau masjid ini diperluas dengan dana yang tidak sedikit, sama artinya kita menyediakan tempat bagi orang-orang musiman yang mereka datang ke masjid hanya beberapa hari saja?. Mending dananya buat pengembangan SDM saja, Pak, biar TPA-TPA terurus dan gurunya sejahtera.”

Saya berpikir bahwa penghargaan masyarakat terhadap guru-guru TPA sangat rendah. Bisa dibuktikan, ketika sebagian besar orang mengeluhkan mahalnya biaya pendidikan, toh, ketika mereka ditawarkan pendidikan di TPA yang gratis, koq peminatnya tidak ada? Hayo, kemana perginya orang-orang itu?! Mereka bilang mahal kalau buat pendidikan, tapi bilang murah kalau buat beli rokok, lihat konser musik, dan sejenisnya.

Lebih ironis lagi, euforia Ramadhan dirayakan secara jahiliyah oleh orang-orang Islam sendiri. Banyaknya peredaran petasan, kembang api, dan sejenisnya, justru di bulan ini. Dan, selera makan minum malah jauh-jauh sudah dikampanyekan. Simak saja, tayangan iklan di TV menjelang Ramadhan dipenuhi iklan sirup dan minuman-minuman yang segar. Ini bukannya malah akan mengganggu?

Lebih prihatin lagi adalah acara-acara pengantar makan sahur di TV jauh sekali dari makna ibadah, kebanyakan diisi acara para komedian dan lawakan yang melanggar aturan agama, misal ; ada laki-laki berperan meniru gaya wanita, ucapan seronok dan melecehkan. Jika ini tiap hari ditayangkan, maka puasanya bisa menjadi puasa yang tidak bermakna.

Ya, sudah, itu urusan TV yang salah ya yang mengelola siarannya sama yang nonton. Biarlah, sudah ada pihak berwenang yang harusnya bisa mengontrol. Yang penting diri kita sendirilah yang harus memulai, menyambut Ramadhan dengan persiapan jiwa yang lebih baik. Sehingga ucapan kita “Marhaban ya Ramadhan” bukan sekedar klise dan basa-basi setahun sekali. “Selamat beribadah, semoga Allah Ta’ala menerima amalan kita“.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar